Serial Cobra Kai : Tidak Ada Hitam versus Putih
Fear does not Exist in this Dojo. Pain does not Exist in this Dojo. Defeat does not Exist in this Dojo.
Slogan dari sebuah Dojo yang memiliki nama unik sekaligus sangar tersebut, telah menancapkan sebuah merek dan identitas tersendiri mulai film The Karate Kid (1984), The Karate Kid Part II (1986) hingga The Karate Kid Part III (1989) yang memiliki peran sebagai pihak antagonis yang ikonik bernama Cobra Kai.
Untuk sebuah nama dan identitas yang erat dengan martial arts dalam industri perfilman Amerika di era 80’an, mungkin saat itu terdengar keren mengingat beberapa film dengan genre sejenis sedang populer saat itu. Lebih dari 30 tahun berlalu sejak film The Karate Kid dirilis, kini ketika mendengar kembali nama Cobra Kai yang dibuatkan serialnya terkesan seperti film kelas-B yang underrated, apalagi bagi generasi terkini yang tidak familiar akan franchise film The Karate Kid.
Bagi saya pribadi, awalnya agak meremehkan serial tersebut, mengingat sebuah mindset akan film martial arts yang umumnya kini sangat sulit menembus ‘kelas-A’. Namun tatkala saya mengetahui jajaran cast dan premisnya, rasa nostalgia masa kecil saya langsung bangkit kembali, disertai antusiasme yang tinggi. Kembalinya dua karakter utama yang diperankan oleh masing-masing aktor orisinal, yakni Daniel LaRusso (Ralph Macchio) dan Johnny Lawrence (William Zabka) tentu saja menjadi nyawa utama serial tersebut.
Dengan setting waktu 34 tahun setelah kisah dalam film The Karate Kid, kisahnya sendiri lebih fokus kepada karakter Johnny Lawrence, seorang murid terbaik dari Dojo Cobra Kai dan telah memenangkan beberapa kejuaraan karate. Namun sejak dikalahkan oleh Daniel LaRusso, keadaan berubah drastis bagi kedua karakter tersebut.
Daniel yang awalnya selalu mendapat bullying dan penganiayaan dari Johnny di masa remajanya, sejak mengalahkan Johnny di partai final kompetisi karate tersebut berubah dan bahkan kini sukses sebagai pemilik showroom mobil mewah. Johnny memiliki kehidupan yang sangat mapan, memiliki seorang istri bernama Amanda (Courtney Henggeler) dan seorang putri bernama Samantha (Mary Mouser), yang di masa kecilnya sudah dilatih karate oleh Daniel.
Sementara Johnny, seorang anak orang kaya yang di saat remajanya berkelompok dengan kawan-kawannya untuk mem-bullying Daniel, kini sedang berjuang dalam pekerjaan serabutan dan hidup sendirian. Kekacauan rumah tangganya terlihat, bagaimana mantan istrinya selalu berpergian dengan laki-laki lain, sedangkan putranya bernama Robby (Tanner Buchanan) yang tinggal bersama ibunya, tidak terurus yang akhirnya bergaul di jalanan.
Dalam sebuah peristiwa, Johnny menyelamatkan seorang remaja yang juga tetangganya, bernama Miguel (Xolo Maridueña) ketika mendapat bullying dari sekelompok remaja seusianya. Dengan modal dari ayah tirinya yang kaya-raya, Johnny pun akhirnya membuka kembali Dojo Cobra Kai yang telah membesarkan namanya, sekaligus menawarkan Miguel untuk dilatih karate.
Ketika beberapa remaja lainnya yang mendapat bullying di sekolahan mulai bergabung dengan Cobra Kai, dan juga Daniel yang mengetahui bahwa Cobra Kai kembali beroperasi, maka konflik pun dimulai dengan berbagai kesalahpahaman antara Daniel dan Johnny melalui problematika yang dialami oleh para remaja tersebut. Ironisnya, hubungan buruk antara Robby dan ayahnya, membuat ia dendam dan bekerja pada showroom mobil kepunyaan Daniel.
Daniel yang tidak mengetahui bahwa Robby adalah putra dari Johnny, kembali berusaha mencapai kesimbangan hidupnya sejak ditinggal mati oleh Miyagi, dengan aktif latihan karate sekaligus mengajarinya kepada Robby, meski Samantha enggan berlatih kembali. Samantha sendiri menjalin hubungan romantis dengan Miguel, padahal mereka berada di kedua kubu yang berseberangan.
Dalam Season 2, Daniel kembali membuka Miyagi Do Karate yang awalnya memiliki murid Robby lalu Samantha akhirnya bergabung. Daniel membuka tempat latihan tersebut atas dasar pandangan negatifnya terhadap Cobra Kai, sehingga ‘kompetisi’ dan intrik antara Daniel dan Johnny pun terus berlanjut.
Sementara karakter John Kreese (Martin Kove) yang kembali hadir, turut memanaskan tensi dalam internal maupun eksternal Dojo tersebut. Latar dan motivasi Kreese yang misterius, mengakibatkan rumitnya kondisi yang dialami oleh Johnny tak hanya dengan Kreese namun juga dengan Daniel, selain tentunya dengan Robby.
Sedangkan Samantha kini diam-diam menjalin hubungan dengan Robby, pasca hubungannya dengan Miguel yang kandas. Lain pula dengan beberapa remaja lainnya yang dialami oleh Eli (Jacob Bertrand), Demetri (Gianni Decenzo), Aisha (Nichile Brown), Moon (Hannah Kepple), serta pendatang baru yakni Tory (Peyton List). Motivasi Daniel yang lebih memprioritaskan latihan karate bersama murid-muridnya pun, menimbulkan masalah baru dengan Amanda dan bisnis showroom mobilnya.
Serial Cobra Kai yang semula agak diragukan oleh sebagian pihak, terbukti mematahkan semuanya, dengan kesuksesan yang diraih selama dua musim berturut-turut pada Season 1 (2018) dan Season 2 (2019). Situs Rotten Tomatoes pun mengganjar nilai tertinggi hingga 100% di Season 1 dan 88% di Season 2.
Cobra Kai merupakan serial yang paling sukses saat ditayangkan melalui saluran Youtube Red (Youtube Premium) yang berbayar. Menurut Cinemablend, penayangan perdana Season 1 Episode 1 pada 2 Mei 2018, menjaring sekitar 5,4 juta penonton per hari itu, yang kini mencapai lebih dari 63 juta penonton. Season 1 berada di perangkat pertama video on demand, dengan lebih dari 41% diatas serial The Act, sedangkan Season 2 yang tayang perdana di 24 April lalu mencapai 136%, sehingga dalam 6 hari tayang menggapai 20 juta penonton, menurut situs Rapid TV News.
Serial ini lebih memprioritaskan eksplorasi drama dan dua karakter utama, yakni Daniel LaRusso dan Johnny Lawrence dalam usaha mereka setelah 34 tahun berlalu, berjuang untuk menggapai sesuatu yang lebih baik dari kompleksitas yang mereka alami. Sesuai judul serialnya sendiri, yang terlihat seperti sebuah spin-off, namun tetap merupakan sekuel atau kontinuitas kehidupan mereka berdua dengan penggambaran yang lebih matang serta realistis.
Seperti yang telah disinggung diatas, serial ini sejatinya lebih mengutamakan karakter Johnny ketimbang Daniel, bagaimana seorang Johnny yang di masa kecilnya pun pernah mendapat bullying hingga bergabung dalam Cobra Kai. Saat menginjak remaja, mengubah hidupnya menjadi seseorang yang antagonis, karena dimentori oleh John Kreese ke arah ‘dark side’, hingga ironisnya malah mem-bully Daniel.
Dalam usaha penebusan dirinya setelah kalah oleh Daniel dan hidupnya berantakan, selain hubungan buruk dengan mantan istri dan putranya, juga ayah tirinya, Johnny bertekad untuk menghidupkan kembali Cobra Kai. Namun dalam perjalanannya, seiring dengan kematangan usia paruh bayanya itu, Johnny berjuang memperbaiki dirinya sendiri dan menanamkan nilai-nilai positif dalam Cobra Kai yang berbeda dari sebelumnya, tanpa merubah metode dan style ‘badass-nya’.
Kehadiran John Kreese terutama di Season 2, membuat Johnny memberikan kesempatan kedua kepada Kreese untuk berubah, dengan menjadikannya sebagai seorang pengamat sekaligus penasihat di Dojo tersebut. Serial ini pula menggali lebih dalam backstory Johnny dan Kreese, sebelum dan sesudah kejadian dalam kisah trilogi The Karate Kid.
Apa yang dialami oleh Johnny ternyata tidak semudah dari apa yang bisa kita bayangkan, malah sepertinya Johnny selalu terjebak dalam berbagai konflik seputar Cobra Kai, baik keluarganya, murid-muridnya serta tentu saja Kreese dan ‘musuh bebuyutannya’ yakni Daniel. Dua legenda karate di All Valley (Johnny dan Daniel) itu dalam beberapa kesempatan bertemu dalam satu adegan, adalah epik yang kadang berkelahi, dan lucunya kadang malah berbincang akrab …. what an awkward situation!
Dibalik kehidupan Daniel sendiri yang terlihat ‘so fine’, tak kalah serunya saat ia berulang-kali berusaha menyeimbangkan kehidupan antara karate, keluarga dan bisnisnya. Problematika yang dihadapi Robby, juga Samantha menambah rumit drama yang ada. Bahkan di paruh usianya, Daniel kembali seperti remaja yang selalu merasa tersesat dan sulit, hingga ia seringkali ‘mengadu’ masalahnya kepada Miyagi dengan mendatangi makamnya atau memandangi fotonya.
Hal yang paling menarik yakni sikap Daniel terhadap Cobra Kai dengan mindset yang sama seperti di masa lalu, padahal Johnny sedang membangun citra yang positif terhadap Dojo-nya, sehingga kesalahpahaman tersebut terwujud melalui berbagai konflik dalam generasi baru, yakni masing-masing para murid Cobra Kai dan Miyagi Do Karate, bagaimana mereka dalam pencarian jati diri remaja terhadap masalah penerimaan pergaulan sosial, persahabatan dan percintaan.
Sayangnya, Pat Morita telah meninggal di tahun 2005 silam. Karakter Ali (Elisabeth Shue) absen di dua season, namun ada petunjuk dalam adegan akhir di Season 2, sehingga kemungkinan ia hadir di Season 3 (2020). Kemunculan reuni orisinal Cobra Kai gangs (minus karakter Dutch), yang tak lain adalah kawan-kawan Johnny di Season 2, dalam adegan motorbike touring juga sangat mengesankan.
Karakter utama generasi baru ini terpusat pada Samantha, Miguel dan Robby, ditambah Tory, terutama dalam kerumitan hubungan asmara mereka. Juga didukung pula oleh beberapa karakter lainnya yang memiliki keunikan masing-masing, terutama karakter Eli yang bertransformasi menjadi ‘Hawk’ dengan gaya rambut Mohawk dan tato burung elang di punggungnya, seorang ikon baru!
Banyaknya flashback berupa footage dari ketiga film The Karate Kid, yakni mengingatkan kembali masa lalu dan nostalgia antar karakter yang mereka alami sebelumnya terhadap masa kini. Beberapa re-kreasi adegannya pun tentu kembali dihadirkan seperti “the Crane Kick” yang dilakukan oleh Miguel, Robby menghantam paku dengan sekali hantam menggunakan palu, kostum tengkorak di pesta Halloween, atau pertemuan sekaligus konflik pertama kali antara Samantha-Miguel-Robby di sebuah pantai.
Re-kreasi setting rumah Miyagi dan mobil kuning Ford Super De Luxe 1948 pun kembali dihadirkan, sama seperti arena hiburan di Golf N’ Stuff, ataupun jaket merah kebanggaan Johnny yang dipakai oleh Miguel pun memperkuat sebuah nostalgia.
Lagu-lagu hard rock era 80’an yang mengiringi adegan terhadap karakter Johnny seorang bad boy/badass dan T-shirt (Van Halen dan Metallica) yang dikenakannya, tak lupa dua film Iron Eagle favoritnya juga menegaskan generasi saat itu, selain juga beberapa lagu pop dan soundtrack lagu Cruel Summer kembali diputar, meski lagu Glory of Love (dari film The Karate Kid Part II) hanya dipakai sebagai salah satu judul episodenya. Untung saja Miguel terkena ‘virus positif’ Johnny, sejak Johnny mereferensikan Guns N’ Roses terhadapnya!
Meski dalam Season 2, terdapat sedikit penurunan kualitas cerita yang tampak dipaksakan dan tone-nya tidak sekuat season terdahulu, namun overall sangat menghibur dan masih menghadirkan kekomplekan drama yang ada, koreografi yang mumpuni, serta tentunya sangat fun untuk disimak. Dojo Cobra Kai berusaha menyingkirkan label antagonisnya, sedangkan Miyagi Do Karate belum tentu sepenuhnya berada dalam ‘light side’.
Can’t wait for Season 3!
Score : 3.5 / 4 stars
Cobra Kai | Season 1 (2018), Season 2 (2019) | Serial, Drama, Teen, Sports | Pemain: Ralph Macchio, William Zabka, Martin Kove, Courtney Henggeler, Xolo Maridueña, Tanner Buchanan, Mary Mouser, Jacob Bertrand, Gianni Decenzo | Produser: Katrin L. Gudson, Bob Wilson | Penulis: Berdasarkan karakter karya Robert Mark Kamen. Penulis: Josh Heald, Jon Hurwitz, Hayden Schlossberg | Musik: Leon Birenberg, Zach Robinson | Sinematografi: Cameron Duncan | Jaringan: Youtube Premium | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 22-36 Menit per Episode